efect bunga berjatuhan
Rabu, 29 Maret 2017
Rabu, 15 Maret 2017
Perjalanan ke Desa Gudang Hirang
Minggu, 12 Maret 2017
Pagi yang gelap di iringi dengan sejuknya mentari pagi,
kami (anggota fkip mengajar) bergegas untuk berangkat ke suatu desa
bersama-sama. 5 perempuan dan 2 laki-laki menggunakan motor pribadi. Tujuan
awal berangkat pagi adalah ke tempat wisata pasar terapung Lok Baintan
sekaligus survei ke salah satu desa untuk program kerja Fkip Mengabdi.
Perjalanan yang cukup jauh sekitar 1 jam dari
Banjarmasin. setengah perjalanan, akses jalan menuju Lok Baintan cukup baik,
namun setelah melewati simpang 4 sungai tabuk akses jalan mulai sedikit
bergelombang dan licin walau tidak terlalu parah. Sampai lah kami disebuah dermaga kecil di
desa lok baintan. Di dermaga kecil tersebut hanya ada 1 buah kelotok (perahu
kecil khas Kalimantan Selatan) yang tersisa. Kami datang agak kesiaangan
sekitar jam 7 pagi. Pasar terapung lok baintan mulai ada setelah sholat shubuh.
Akhirnya kami pun menyewa kelotok tersebut dengan biaya 100 ribu sepuasnya.
Karena ada 7 orang kami pun patungan sebesar 15ribu perorang. Berangkatlah ke
pasar terapung lok baintan. Perjalanan dari dermaga ke lokasi pasar ditempuh
sekitar 15 menit. Oh iya biaya ini cukup murah dibandingkan berangkat langsung
dari kota Banjarmasin yang jarak tempuhnya sekitar 1 jam setengah dengan biaya
sewa kelotok paling murah 450 ribu.
Sesampainya di Lok Baintan saya cukup kagum karena pasar
ini lebih bagus dari yang satunya hehe. Pedagangnya cukup banyak, sungainya
cukup bersih dan pedagangnya ramah-ramah. Gelombang arusnya cukup besar
sehingga membuat saya berteriak lebay hahaaa maklum tidak bisa berenang J dan salah satu hal yang membedakan pasar lok baintan
dengan pasar terapung lainnya adalah disini disediakan ojek jukung. Jadi
pengunjung yang mau ikut berjualan bisa naik ke jukung pedagang sambil mengayuh
jukung dan berjualan di sungai. Tidak ada tarif pasti, kalian bisa kasih
seikhlasnya atau hanya dengan membeli dagangan mereka.
Setelah berwisata ria di pasar terapung Lok Baintan, kami
kembali ke dermaga dan melanjutkan perjalanan ke Desa Gudang Hirang yang tidak
jauh dari Desa Lok Baintan. Akses jalan kesana mulai sedikit tidak mulus,
banyak bebatuan dan jalanan yang becek. Sampai lah kami di daerah Sungai
Madang. Sebuah desa yang berada didalam desa. Desa sungai madang ada didalam
wilayah desa gudang hirang kecamatan sungai tabuk, makanya saya sebut ada desa
didalam desa. Sebuah desa yang terkenal penghasil jeruk madang yang manis dan
besar. Sesampainya kami di desa, kami langsung berkunjung ke rumah seorang
kepala sekolah yang sudah menjadi kepala sekolah selama puluhan tahun di MI
Raudhatul Jannah. Sebuah sekolah agama yang terletak bersebelahan rumah kepala
sekolahnya, Bapak Husni.
Disana kami berkunjung kerumah beliau sekaligus
memberitahukan maksud kedatangan kami disana untuk mengabdi di desa sungai madang
ini selama seminggu pada bulan Juli nanti. Awalnya kami takut jika ada sebuah
penolakan, karena sekolah tersebut hanya mengajarkan pelajaran agama sedangkan
kami nanti akan mengajarkan materi umum. Setelah kami jelaskan kegiatan kami
nanti bahwa kami akan mengajar mata pelajaran umum dan pelajaran keterampilan,
bapak kepala sekolah tersebut dengan lapang dada mengizinkan kami untuk menetap
disana selama seminggu. Kebetulan di kampung tersebut ada sebuah rumah kosong,
jadi kemungkinan besar kami akan tinggal disana dan laki-lakinya akan tinggal
dimesjid. Salah satu yang khas dari desa ini adalah dimana toiletnya berada di
atas sungai dan didesa ini tidak memiliki fasiltas air bersih. Semua aktivitas
sehari-hari hanya menggunakan air sungai. Untungnya ada wc mesjid yang lumayan
tertutup, sehingga nanti memudahkan kami terutama bagi yang perempuan.
Bapak Husni menyatakan bahwa mayoritas penduduk disana
adalah behuma atau bertani. Mereka
mengandalkan sawah dan kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fasilitas
pendidikan disana pun masih sangat memprihatinkan. Tidak ada toilet, tidak
memiliki lapangan, bangunan masih banyak yang rusak, dan kursi meja yang
seadanya. Insyaallah semoga kedatangan FKIP Mengajar nanti bisa sedikit
memperbaiki keadaan sekolah dan memberikan motivasi bagi anak-anak sungai
madang untuk menempuh pendidikan yang tinggi. Kegiatan pengabdian ini
InsyaAllah akan dilaksanakan pada bulan Juli saat liburan semester nanti.
Setelah mendapatkan izin dari kepala sekolah, kami
menanyakan rumah pembakal/kepala desa untuk meminta izin melakukan kegiatan di
Desa Gudang Hirang. Beliau memberikan petunjuk bahwa jika ingin ke rumah
pembakal maka kami akan melalui alses jalan yang sangat parah dan cukup
membahayakan.
Karena kami tidak ingin bolak balik alias sekaligus saja
kunjungan pada hari itu, maka kami pun nekat untuk berpamitan kepada bapak
Husni dan melanjutkan perjalanan kami ke rumah pembakal.
Awal perjalanan masih biasa-biasa saja. Jalanan mulus,
sejuk dan kanan kiri terlihat pemandangan sawah yang sangat indah, namun ketika
perjalanan mulai menjauh kami terkejut ketika melihat jalan yang bergelombang,
becek, licin dan bercampur lumpur. Awalnya saya cukup khawatir untuk melalui
jalan tersebut karna jalanan yang tidak mulus, banyak lubang jalan yang tak
terduga serta jalanan yang digenangi air dan lumpur membuat hati saya takut dan
gemetaran. Hanya ada 2 pilihan, melewati jalan yang berlumpur becek atau
melewati jalan yang tergenang air. Bagaikan nuah simalakama hahaa akhirnya
motor didepan saya memilih untuk melewati jalan yang berlumpur dan licin.
Ternyata ban motor teman saya sulit untuk berputar di area lumpur alhasil
cipratan lumpur diban motor berhambur ke belakang sehingga menodai
pakaian,kerudung, hingga terkena di wajah saya. Aaaaaaa pada saat itu saya
tidak karuan rasa lagi, wajah penuh cipratan lumpur, baju becek, sepatu basah
dll. Dengan segala usaha yang keras akhirnya kami semua bisa melalui jalan yang
rusak tersebut sepanjang kira-kira 800m. Setelah keluar dari desa kami berkunjung
kerumah pembakal desa gudang hirang. Karena badan saya yang sangat kotor dan
satu-satunya yang terkena lumpur , akhirnya saya memutuskan untuk tidak masuk
kedalam hanya menunggu diluar.
Setelah berkunjung kerumah pembakal untuk minta izin,
akhirnya kami kembali ke Banjarmasin. Berangkat jam 6 pagi dan balik sekitar
jam 12 siang. Setelah sampai dirumah saya langsung mandi dan tidur hahahaaa....
It was a good challenge, it was an unforgettable
experience. Desa gudang hirang taught me how to be strong and how to survive in
every condition.
-Zulfa-
Fkip Mengajar
AGEN
FKIP MENGAJAR 2016
Pada
awal tahun 2016 ketika saya kuliah di di Aula FKIP 2, saya melihat sebuah
brosur yang terpajang di papan pengumuman, yaitu Dibuka Pendaftaran Agen Fkip
Mengajar. Fkip mengajar adalah salah satu program kerja dari BEM Fkip Unlam di
bidang pendidikan. Disana tertulis bahwa kegiatan dari fkip mengajar adalah
mengajar di sekolah bawang. Dimana sekolah bawang ini adalah sekolah fillial
yang kebanyakan dari muridnya adalah anak-anak yang kurang mampu dan sekolah
sambil bekerja.
Saat
itu saya masih duduk di semester 4. Dari SMP hingga SMA saya selalu aktif di
kegiatan sekolah. Saat SMP pun saya pernah menjabat sebagai ketua osis selama 2
periode. Ketika SMA saya lebih banyak mengembangkan diri saya di komunitas
daripada organisasi sehingga saya memutuskan tidak mengikuti osis saat masih
SMA.
Ketika
memasuki tahun ke 2 kuliah, saya mulai gerah karena bosan dengan status
“mahasiswa kupu-kupu” alias mahasiswa kuliah pulang kuliah pulang. Ketika
membaca brosur tersebut saya pun langsung mendaftar. Saya mulai mengisi
formulir dan mengikuti tes wawancara. Ketika diwawancara saya agak sedikit
gugup, karena belum memiliki publik speaking yang bagus. Saya hanya menjelaskan
betapa saya sangat tertarik dengan dunia pendidikan dan sosial. Salah satu
motivasi saya dalam memilih kuliah keguruan pun salah satunya adalah profesi
yang mengarahkan kita pada amal jariyah dan melatih kita untuk menjadi pribadi
yang bermanfaat.
Tibalah
pengumuman, finally....... Alhamdulillah saya diterima menjadi agen fkip
mengajar dari ratusan mahasiswa yang mendaftar. Saya sangat bahagia. Saya
sangat bersemangat karena akhirnya saya memiliki kesibukan diluar kuliah,
karena prinsip saya adalah “lebih baik sibuk daripada nganggur”. Prinsip itu
selalu saya pegang, tentunya makna sibuk disini adalah sibuk yang bermanfaat
bukan hanya menghabiskan waktu.
Sebelum
terjun mengajar, kami dibekali beberapa materi pengembangan diri tentang cara
mengajar, publik speaking, motivasi dll
Ketika
itu mahasiswa yang diterima sekitar 50an, kami dibagi menjadi 8 kelompok.
Setiap kelompok mendapatkan kesempatan 1 hari di hari sabtu untuk mengajar dan
menghandle kelas. Untuk minggu berikutnya bisa saja datang untuk menjadi
volunteer.
Ketika
hari pertama, saya ikut ke sekolah bawang sebagai volunteer. Baru masuk ke
dalam kelas, mata saya sudah mulai menjatuhkan tetesan air mata. Baru kali ini
saya terjun langsung ke sekolah yang memang kurang dalam segi fasilitas.
Sekolah bawang ternyata memiliki nama asli SDN Filial mawar 2. Sekolahnya terletak
didalam pasar lima Banjarmasin. Bukan seperti sekolah pada umunya. Sekolah ini
hanya seperti sebuah kelas dan memiliki satu sekat pemisah antara siswa SD dan
SMP. Anak-anak yang bersekolah disana pun tidak memakai seragam sekolah seperti
anak pada umunya. Mereka memakai baju bebas dan tidak memakai sepatu. Kelas nya
pun digabung, tidak ada pemisahan antara kelas 1,2,3 dan seterusnya. Ketika
saya disana saya lebih cenderung berinteraksi dengan siswa SMP. Saya iseng
menanyakan kegiatan mereka diluar sekolah dan background mereka. Ternyata
kebanyakan dari siswa disana adalah kuli bawang. Setelah pulang sekolah mereka
bekerja sebagai tukang angkut bawang, bagi siswa perempuan, mereka bekerja
menjual gorengan. saya jadi lumayan paham kenapa sekolah tersebut dijuluki
sebagai sekolah bawang.
Sejak
itu saya sangat bersyukur, karena alhamdulillah hingga sekarang saya bisa
menikmati pendidikan hingga jenjang kuliah secara gratis. Masih banyak
saudara-saudara kita yang masih bisa belum menikmati nikmatkan sebuah proses
belajar.
Selain
mengajar, ketika 17 Agustus 2017 kami mengadakan lomba sekaligus untuk
mempererat keakraban kami dengan anak-anak sekolah bawang, pada saat itu kami
tidak memiliki dana dan akhirnya kami memutuskan untuk patungan karena waktunya
yang sangat mepet. Pada saat itu kami menggunakan aula yang tidak terpakai di
asrama salah satu anggota kami. Mereka pun diangkut memakan taksi kuning menuju
aula. Mereka sangat bersemangat. Ketika itu lomba yang dilombakan antara lain
lomba mewarnai, maka kerupuk, estapet sedotan dll. Kegiatan pada hari itu
sangat seru sekaligus mengharukan ketika melihat senyum canda tawa anak-anak
sekolah bawang.
Sejak
itu saya saya sangat senang dengan kegiatan Agen Fkip mengajar. Saya lumayan
aktif di Fkip Mengajar karena pada saat itu fkip mengajar adalah satu-satu nya
kegiatan diluar kampus yang saya ikuti. Mungkin karena partisipasi saya di fkip
mengajar,kak Ihsan ketua BEM fkip Unlam pada saat itu menunjuk saya dan 2 teman
anggota lainnya untuk mengikuti lomba debat pendidikan di Bandung. Cerita
selanjutnya bisa dilihat di blog saya sebelumnya tentang lomba ini.
Setelah
setahun kepengurusan kak Ihsan di BEM, semua anggota fkip mengajar merasa
kebingungan. Apakah fkip mengajar hanya samapai disini saya? Apakah fkip mengajar
hanya sebuah program kerja yang tidak berkelanjutan? Setelah kami rapat,
akhirnya kami menemukan solusi dimana kami mengusulkan kepada Dekan Fkip bahwa
Fkip Mengajar ini menjadi sebuah UKM di lingkungan FKIP sehingga berkelanjutan.
Ternyata
tidak mudah untuk membentuk UKM di lingkungan fakultas. Kami semua bersusah
payah meyakinkan bahwa UKM ini akan sangat bermanfaat apalagi untuk mahasiswa
keguruan.
Finally,
setelah usaha,kerja sama dan doa kami, akhirnya Wakil Dekan bagian
kemahasiswaan menyetujui adanya UKM baru di lingkungan Fkip Unlam yaitu UKM
Fkip Mengajar.
Setelah
mendapatkan persetujuan dari wadek kemahasiswaan, kami bersiap untuk mengadakan
peresmian UKM ini. Kami pun membentuk konsep seminar dan workshop sekaligus
promosi dan perekrutan anggota baru.
Akhirnya
kami mendapatkan tanggal Sabtu, 17 Desember 2016 untuk mengadakan seminar dan
workshop. Seminar Motivasi Pendidikan dengan tema “Menggali Inspirasi Dan
Potensi Bersama Fkip Mengajar Untuk Banua” dengan pembicara Bu Atiek, Pak
Nasrullah dan bersama para pengajar muda Indonesia Mengajar yang ditempatkan di
Hulu Sungai Selatan, kak Darwin, kak Dikun dan Kak Dika.
Kuota
peserta membludak dan overload. Kami sangat senang karena antusias mahasiswa
Fkip sangat tinggi dalam mengikuti Seminar dan Workshop Motivasi Pendidikan.
Setelah peresmian UKM Fkip Mengajar, kami membuka perekrutan anggota baru
setelah selesai acara. Panitia memberikan formulir kepada para peserta yang
ingin bergabung dengan Fkip Menagajar karena salah satu syarat mengikuti UKM
ini adalah dengan mengikuti seminar tersebut. Karena jumlah peserta yang kami batasi dan
overload, banyak dari mahasiswa yang menginginkan untuk ikut Fkip Mengajar
akhirnya panitia membuka gelombang ke2 pendaftaran UKM Fkip Mengajar. Para
mahasiswa yang ingin mengikuti UKM ini diwajibkan untuk membuat essay, seleksi
wawancara dan menyumbang buku.
Setelah
mengikuti berbagai tahap gelombang pertama dan kedua, akhirnya terpilihlah 44
anggota baru dari ratusan yang medaftar. Karena keterbatasan jumlah anggota
maka kami sangat meminta maaf kepada teman-teman yang masih belum beruntung
mengikuti UKM ini.
Setelah
terbentuk UKM Fkip Mengajar maka dibentuklah susunan kepengurusan dan
departemen yang baru. UKM Fkip Mengajar memiliki 3 departemen yaitu departemen
humas, departemen pengembangan diri, departemen pengabdian masyarakat. Entah
kena angin apa wkwk akhirnya saya dipilih untuk menjadi kepala departemen
pengabdian masyarakat. Awalnya saya ingin menolak karena saya sama sekali buta
organisasi dan tidak memiliki pengalaman berorganisasi selama kuliah. Himpunan
mahasiswa tingkat prodi saja saya tidak ikuti, tetapi kesempatan hanya datang
satu sekali dengan lapang dada akhirnya saya terima amanah itu walaupun saya
masih belum bisa membayangkan apa saja yang akan saya lakukan nanti, tapi saya
terus belajar dengan teman-teman yang memang sudah berpengalaman dalam berorganisasi. Saya pun mulai menyusun program kerja.
Program kerja yang saya susun ada 2 yaitu Fkip Mengajar dan Fkip Mengabdi. Untuk program kerja Fkip mengajar, kegiatannya
adalah mengajar selama 8 kali pertemuan di Sekolah Bawang karena sekolah bawang
satu-satunya sekolah fillial di Banjarmasin setahu kami. Bukan hanya mengajar
ilmu akademik biasa, tetapi saya mewajibkan setiap anggota untuk memberikan
ilmu keterampilan yang bermanfaat setiap kali pertemuan seperti membuat
kerajinan tangan. Kemudian program kerja kedua adalah Fkip Mengabdi, fkip
mengabdi ini adalah sebuah pengabdian masyarakat yang InsyaAllah akan
dilaksanakan di daerah Sungai Tabuk selama seminggu karena kami melihat banyak
keterbatasan yang kami punya terutama dalam segi biaya dan pendamping kegiatan
maka saya memutuskan untuk di daerah yang memang tidak terlalu jauh dari
Banjarmasi dan hanya selama seminggu. Semoga program kerja ini akan terlaksana
dan akan memberi kesan yang mendalam kepada anggota fkip mengajar.
Harapan
saya untuk Fkip Mengajar adalah semoga fkip mengajar menghasilkan anggota yang
peduli terhadap pendidikan dan berkontribusi terhadap pengembangan masyarakat didaerah
yang jauh dari fasilitas yang memadai di bidang pendidikan.
Langganan:
Postingan (Atom)




















