Suatu hari kak Bela
salah satu sahabat saya di komunitas agen fkip mengajar mengirimkan sebuah
pesan lewat line yang berisi “dek, kamu direkomendasikan untuk mengikuti lomba
debat pendidikan sebagai perwakilan dari agen fkip mengajar, apakah km
bersedia?”
saya balas “kapan
kak dan dimana?” , “akhir Oktober ini dek, di Bandung.”
Saya langsung melek
ketika mendengar kata Bandung, hal pertama yang saya tanyakan setelah itu
adalah “itu pakai biaya sendiri atau gratis ka?” spontan di jawab “dibiayai oleh fakultas”.
Tambah melek lagi
lah mata saya ketika membaca kata “ dibiayai alias Gratis” hahaa..
Awalnya saya ragu
untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan lomba debat pendidikan di Bandung itu,
mengingat banyaknya tugas dan kerjaan pada saat itu.
Dengan bismillah
saya terima, walaupun ketua BEM, kak Ihsan menanyakan kembali apakah saya yakin
atau tidak untuk mengikuti lomba ini. Spontan saya jawab “memang pengalaman
saya dalam berdebat baru satu kali dan 3 tahun yang lalu, tapi kalo kakak
percaya dengan Zulfa , InsyaAllah Zulfa akan melakukan yang terbaik”
Entah dalam keadaan
sadar atau tidak saya mengucapkan kalimat itu haha
. Hari-hari pun saya
lalui. Saya mulai saling berkomunikasi dengan para panitia di Bandung. Saya pun mendapatkan daftar mosi yang akan di
debatkan nanti nya. Ada 13 mosi yang akan di debatkan dan semuanya berkaitan
dengan pendidikan.
Sebenarnya saya
masih meragukan kemampuan saya, saya pun kurang serius dalam mendalami mosi.
Banyaknya tugas dan urusan kampus membuat saya seolah-olah mengabaikan hal ini.
Dalam lomba ini saya
akan bersama 2 rekan saya dari fkip mengajar juga.
Hari demi hari kami
lalui, aku akui kami latihan seadanya, karena terlalu banyak mosi yang dibahas.
Hari itu pun tiba,
Kamis, 27 Oktober 2016 kami berangkat menuju Bandara Syamsudin Noor didampingi oleh bapak Zulkifli sebagai
pendamping.
Waktu yang ditempuh
cukup lama, 1 jam 30 menit dari Banjarmasin ke Bandung. Setelah sampai di
Bandung kami langsung menuju Universitas Islam Sunan Gunung Djati Bandung.
Pertama kali masuk
di kampus nya saya langsung terkagum-kagum.
Suasana kota Bandung yang sejuk kala itu membuat saya bersyukur betapa beruntung nya saya bisa
melangkahkan kaki di kota ini dengan gratis. Suasana kampusnya sangat asri,
mahasiswa nya mayoritas menggunakan busana Syar’i.
Kami di bantu
panitia untuk beristirahat di asrama. Teman-teman yang lain telah istirahat
dikamar masing-masing.
Kami beristirahat di
ma’had (asrama mahasiswa) ,,tempatnya nyaman dan bersih. Disaat teman-teman yang lain memutuskan untuk
beristirahat, saya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kampus dan sholat di
masjid kampus.
Ketika masuk ke
masjid, saya melihat begitu banyaaakkk mahasiswa yang sholat disana, tempat
wudhu untuk akhwat pun sangat tertutup dan bagus.
Setelah sholat saya
melihat banyak mahasiswa yang berjualan disekitar kampus.
Mereka sangat
kreatif, ada juga komunitas sukses muda. Komunitas itu khusus untuk perempuan
yang ingin mengembangkan dirinya dan belajar soft skill.
Memang rumput
tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri, terlintas dibenak
saya untuk bisa kuliah disana. Dari dulu sebenarnya saya mengidamkan belajar di
kampus dimana dunia dan akhirat nya ada alias di kampus Islam, walaupun masih
belum tercapai saya sangat bersyukur sudah bisa kuliah dan full tanpa biaya.
Hari kamis malam
seluruh peserta mengikuti TM. Panitia membacakan peraturan dan terakhir
mengundi mosi.
Alhamdulillah kami
mendapatkan mosi yang lumayan menantang :D tentang sertifikasi guru, dan lawan
kami adalah Universitas Negri Solo.
Setelah mendapatkan mosi kami langsung latihan dan begadang . kami masih belum tau
akan mendapatkan pro atau kontra karena penentuan pro kontra akan di undi
keesokan harinya.
Kami berlatih keras
untuk materi pro. Kami latihan cara menyampaikannya sampai dengan pengaturan
waktu, karna setiap pembicara hanya di beri waktu 4 menit.
Pada hari penentuan
pro dan kontra,, kami berunding dengan kelompok lawan dan ternyata tidak
ditemukan kesepakatan karena kami sama-sama ingin di pihak kontra. Akhirnya
panitia melakukan undi dengan uang koin. Finally, kami mendapatkan kontra.
Padahal sudah kerja keras latihan buat materi
pro dan ternyata dapat kontra. Alright kami pun kembali kerja keras dan
begadang lagi. Sampai tiba waktunya saya pun merasa deg-deg an luar biasa.
Jantung berdetak
kencang. Ini adalah lomba pertama kali saya ikuti di status mahasiswa, rasanya
sudah terlalu lama tidak merasakan suasan kompetensi.
Saya terus berdoa
dan berdoa, tibalah giliran saya sebagai pembicara pertama. Awalnya gugup lama kelamaan gugup nya
berkurang dan Alhamdulillah lancar karena memang sudah latihan semaksimal
mungkin.
Setelah beberapa jam
menunggu 16 tim lainnya yang bertanding, tibalah waktu untuk pengumuman 8
besar. Jantung dag dig dug tidak karuan, apakah kami berhasil masuk 8 besar
atau tidak.
Panitia mengumumkan
dari point yang paling bawah,,, ketika panitia menyebutkan urutan ke 6 ternyata
mereka menyebutkan UNLAM masuk 8 besar dan urutan ke 6 .. Alhamdulillah luar
biasa kami sangat bahagia dan sama sekali tidak menyangka, kemudian bagi yang
masuk 8 besar akan dipilih lagi menjadi 4 besar pada hari itu juga. Kami hanya
memiliki waktu 2 jam untuk belajar. Kami melakukan pengundian mosi dan posisi. Akhirnya
dalam babak menuju 4 besar kami mendapatkan mosi “pendidikan gratis berdampak negative
bagi pendidikan” dan posisi kami sebagai pihak kontra.
Setelah dapat mosi
dan posisi kami langsung meninggalkan ruangan dan mencari tempat yang nyaman
buat latihan, karna kami hanya memiliki sedikit waktu. Ini sangat berbeda dengan
babak penyisihan dimana kami memilik waktu 24 jam untuk latihan.
Setelah selesai kami
pun langsung kembali keruangan dan bertanding kembali.
Kali ini kami
melawan anak-anak dari Universitas Negri Semarang, mereka sangat bagus,cakap
dan tegas. Mereka juga teman kami di asrama. Kami sebenarnya agak kesulitan
dengan mosi ini. Selain waktu yang disediakan cukup sedikit, materi nya pun
kurang ada di internet. Yang penting kami selalu memberikan yang terbaik dan
maksimal ketika tampil.
Hari mulai gelap dan
bintang-bintang pun bertaburan dilangit, waktu menunjukan jam 8.30 WIB waktu
nya pengumuman 4 besar yang akan bertanding kembali untuk keesokan paginya.
Taraaaaaaaaaaaaaaaaaaa…
jeng,,jeng,,jenggggggggggggggggg Finally!!!!!!!!!!!!!!!
Masuk 4 besar
yeayyyyy J
Pokoknya hari
itu 2 kali bahagia deh,sama sekali gak
nyangka bisa sejauh ini. Yang ada dalam pikiran kami waktu itu adalah “yang
penting kita pulang bawa piala” haha….
Karena lelah banget
seharian udah 2 kali debate, finally kami memutuskan untuk beristirahat dan
akan kembali latihan esok shubuh. Oh iya btw ketika pengundian kembali, kami
mendapatkan mosi tentang UKG (Uji Kompetensi Guru) yang notabene UKG ini berkaitan erat dengan
sertifikasi guru. Alhamdulillah ini memudahkan kami dalam menguasai materi. Kami
pun beristirahat dan memutuskan untuk besok saja latihan.
Pada hari itu saya
hanya tidur beberapa jam saja, lelah sangat. Ketikan jam 4 pagi kami langsung
bergegas untuk mandi dan sholat shubuh, sebelum matahari terbit kami langsung
keluar asrama untuk latihan. Awalnya acara akan dimulai jam 7 tapi di undur ke
jam 9.
Untuk babak ini kami
melawan tim STIKIP Garut. Dari 4 tim akan dipilih 2 tim untuk masuk ke babak
final dan memperebutkan Juara 1 dan 2.
Setelah berdebat ria
hehe langsung diumukan point, again Alhamdulillah UNLAM masuk di 3 besar alias
juara 3, sedangkan yg 2 besar akan bertanding kembali memperebutkan juara 1 dan
juara 2.
Kami bersyukur juara
3 karna pada waktu itu kami sangat lelah dan mungkin tidak akan sanggup lagi untuk
berdebat lagi jika masuk 2 besar.
Hari itu adalah hari
bahagia kami sekaligus sedih juga karna pada hari itu kami harus kembali ke
Banjarmasin. Jadi, setelah pengumuman dan penyerahan piala jam 1 siang kami
langsung ke Bandara tanpa melepas almameter sangking takut ketinggalan pesawat.
Alhamdulillah, kami
kembali ke Banjarmasin dengan selamat dan bahagia, membawa piala dan
mengharumkan nama UNLAM. Walaupun saya agak kecewa karena tidak bisa jalan2 ke
tempat wisata di Bandung karena fokus belajar dan latihan, tetapi saya juga
bersyukur bisa ke Bandung dengan gratis dan melihat situasi kota Bandung selama
4 hari. Setidaknya 4 hari yang berkesan itu membuat saya ingin kembali kesini
lagi. InsyaAllah J
-Zulfa-






















