efect bunga berjatuhan

Sabtu, 21 April 2018

Perjalanan ke HSS


Semenjak demisioner dari organisasi, aku jarang sekali berkegiatan diluar. Kuliah pun sudah habis dan tinggal menyusun skripsi. Aku merasa berada di titik sangat-sangat tidak produktif karena terbiasa sibuk setiap hari nya. Sejak awal 2018 aku memang fokus menyelesaikan skripsi dan mengembangkan bisnis henna ku, hampir 5 bulan aku mengerjakan skripsi dan akhirnya aku menemukan fakta bahwa aku tidak bisa mengambil data disemester ini karena anak-anak disekolah hendak UN sedangkan penelitianku memerlukan waktu kurang lebih 1 bulan. Aku cukup terpukul dan sering menangis beberapa hari ini. aku tau cara untuk kembali bahagia adalah dengan liburan. Ya, aku memang senang berpetualang, berkelana ketempat baru, jalan-jalan, untuk menghilangkan stres. Adik-adik di fkip mengajarpun mengajak aku untuk mengikuti kegiatan pengabdian di desa pantai langsat HSS. Tanpa berpikir panjang aku pung mengiyakan untuk mengikuti kegiatan tersebut.kebetulan pada saat itu kak ifit dari kelas inspirasi juga ingin jalan-jalan ke HSS, jadi aku ajak saja untuk join di agenda ini. kegiatan pengabdian ini diadakan di sdn riam talo 2 dan sdn hulu banyu pada hari Jumat-Minggu 13-15 April 2018 sekolah ini adalah sekolah pengabdian ka Ale dari Indonesia Mengajar selama 1 tahun. Beliau lah yang membantu serta memfasilitasi selama kami berkegiatan disana.
Hari pertama aku berangkat dengan 28 anak lainnya naik yonif pada jam 7.30 kami berangkat dari meeting point di gedung serba guna ULM. Karna bertepatan dengan hari Jumat maka kami singgah di Kandangan untuk istirahat dan sholat jumat untuk laki-lakinya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dan sampai di riam talo kira-kira jam 3 siang. Kami bergegas membereskan barang bawaan kami dan berjalan kaki menuju kedalam desa. Tiba-tiba hujan deras menghampiri sebagian dari kami basah kuyup sebagian lainnya menggunakan jas hujan. Sampai dirumah warga, kami langsung istirahat sejenak dan bersiap untuk sholat ashar. Ketika sore hari sebagian dari kami ada yang mencek kesehatan warga dan sebagian lainnya mempersiapkan memasang banner disekolah termasuk aku. Setelah sholat ashar aku berjalan-jalan disekitar desa sembari mendekati anak-anak. Tak kusangka anak2 begitu ramah dan mudah menerima orang baru. Saat itu aku berkeliling sekolah di SDN Riam Talo 2 menyelusuri bangunan sekolah dan masuk ke beberapa kelas karna pada saat itu kelas-kelas tidak terkunci. Aku melihat banyak buku yang berserakan diatas meja dan serontak anak-anak mengambil buku tersebut dan menunjukan kepadaku bagian materi bernyanyi pada buku tersebut. Akhirnya kami pun bernyanyi bersama, melihat situasi anak-anak yang semangat belajar pada saat itu, aku pu mencoba memanfaatkan keadaan. Saat itu aku langsung mengajarkan mereka bahasa inggris dengan nyanyian, akhirnya kelas pun jadi ramai padahal sudah sore dan teman-teman diluar masih sibuk memasang banner kegiatan didepan sekolah.




Hari kedua semua anak-anak fkip mengajar bergegas untuk mengajar di sekolah yang sudah dibagi sesuai kelompok masing2. Pada saat itu aku tidak terlibat langsung karena peran ku disini hanya mendampingi bukan sebagai anggota organisasi ini lagi. Aku hanya mengawas di SDN Riam Talo 2 karena jaraknya lebih dekat dengan rumah. Setekah siang hari semua nya istirahat dan bersiap sholat zuhur, mayoritas dari kami ada yang tidur siang karena kelelahan. Pada sore harinya kami melakukan wawancara sekalian sosialisasi pendidikan ke tempat warga dan pada malam harinya kami melakukan diskusi internal tentang apa saja yang sudah didapat selama 2 hari didesa ditemani dengan api unggun didepan sekolah. Pada jam 11 malam kami kembali kerumah untuk berisitirahat. Salah satu teman kami yaitu Rere tiba-tiba sesak nafas dan semua badannya kejang, akhirnya kami mengevakuasi rere ke musholla dan membiarkan teman2 yang lain untuk istirahat. Awalnya aku mengira rere kesurupan, tapi aku positif thinking dan aku melihat dia hanya kelelahan. Hampir setengah jam di musholla rere belum sadar juga, teman-teman yang lain yang mendampingi rere di musholla sudah berusaha memijat, mengusap berbagai macam freshcare atau minyak kayu putih namun badan rere tetap saja kejang. Jujur aku agak panik saat itu karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Karena aku merasa tidak ada perkembangan, Akhirnya aku berinisiatif untuk mengobati rere dengan bacaan Alqur’an. Aku mulai membacakan surah ayat kursi, alfatihah 4 dan ayat di almatsurat kemudian aku tiupkan kebagian tubuh rere yang kejang dan alhamdulillah sebuah keajaiban tangannya melemah dan kembali normal. Melihat perkembangan tersebut akhirnya aku membacakan alquran dan ku tiupkan ke seluruh tubuhnya mulai dari tangan dan kaki yg kejang, leher hingga kepala sambil ku pijat. Alhamdulillah tidak lama kemudian badannya kembali normal dan rere tidur nyenyak. Setelah beberapa menit rere bangun dan kembali sadar. Akhirnya kami memberinya air hangat dan membiarkannya kembali tidur dengan nyenyak. Kamipun memutuskan untuk tidur di musholla menemani rere. Hufftttt semenjak kejadian itu aku merasa Alquran lah obat yang paling mujarab, dan tiba-tiba aku tertarik untuk belajar rukyah heheheh....
Hari terakhir di desa, kami bergegas membereskan barang-barang bawaan, dan pamitan dengan warga desa dan menuju desa loklahung untuk refreshing ke air terjun nya.
Jam 12 siang semua rombongan kembali pulang ke Banjarmasin, sementara aku dan kak ifit tetap tinggal di loksado karena ingin liburan sekalian mengikuti kegiatan di SD haratai 3 tepat keesokan harinya, hari senin.
Aku dan ka ifit nginap di mess ka gino relawan dari nusantara sehat.  Pada sore itu loksado diguyur hujan deras, aku berdoa semoga teman-teman yang lain yg sedang menuju banjarmasin pulang dengan selamat mengingat jalanan loksado yang sangat curam.
Keesokan harinya Senin 16 April 2018 aku menuju haratai 3 bersama ka Endah, relawan Indonesia mengajar yang ditempatkan disana. Pada saat itu aku sangat bahagia karna setelah setahun lamanya akhirnya aku bisa kembali ke desa ini lagi. Jalanannya yang menantang, curam, dan lumayan mengerikan tidak membuatku jera untuk berkunjung kesana. Sampai disana aku disambut dengan warga desa yang sangat ramah. Kali ini aku singgah dirumah mama vira, aku langsung mencari mama ritno, seorang ibu-ibu yang pernah aku henna tahun kemarin, dan aku memiliki moment tersendiri bersama mama ritno tahun lalu hihiiii. Setelah makan pagi bersama tidak lama kemudian mama ritno singgah kerumah dan akhirnya temu kangen deh sama beliau. Langsung aku tawarin henna deh dan akhirnya beliau mau padahal udah siap-siap mau memetik banih ke gunung,hhehe...
Sambil ngehenna beliau sambil ketawa ketiwi deh kami berdua mengingat momen-momen tahun kemarin wkwk Cuma kami berdua aja yang tauuu hihiiiii...






setelah bercanda ria dan selesai ngehenna, aku pamitan ke ibu-ibu di teras rumah tempat kami singgah untuk menuju ke sekolah. Akhirnya kami semua menuju sekolah untuk agenda BEKANTAN (bermain, berkawan dan bekegiatan). Sampailah di sdn haratai 3. Sekolah sd negeri yang berada dipelosok hulu sungai selatan.  Sampai disana kegiatan kami bermain, kami dibagi berkelompok dan aku bersama kelompok ku bermain domikado, dan juga main abc ada 5, setelah itu siapa yang kalah akan mendapatkan tantangan-tantangan seperti mencari 10 sampah plastik, bilang terima kasih ke semua guru, kompak ke kakak-kakaknya dll. Pada hari itu semua anak-anak senang sekalian kenalan denganku lebih dekat hehe.. pada hari itu hujan lebat menemani kegiatan kamii,, duhhh jadi inget persis kenangan tahun kemarin saat berkunjung kesini juga diguyur hujan, hufttt... setelah selesai berkegiatan bersama anak-anak, kami pun makan bersama anak-anak dan warga desa, makan nasi yang sudah di proses dengan cara mahumbal dan lauk pauk sederhana namun kebersamaannya membuat makanan saat itu menjadi sangat nikmat sekali.. 


aku merasa memiliki keluarga baru disana, warga-warganya sangat ramah sekali walaupun banyak perbedaan diantara kami.oh ya setelah makan aku ngehenna semua anak2 cewe disekolah ini loh termasuk beberapa warga desa juga hihihi hitung2 sebagai kenangan disini lahh..



 Pada sore harinya kami langsung turun keloksado, aku dan ka ifit mengambil barang di tempat ka gino dan singgah untuk sholat di mess kakak2 Indonesia mengajar. Setelah magrib kami semua langsung menuju kandangan menginap di SKB tempat dinasnya kakak2 PM. Besok paginya aku pamit dengan kakak2 PM semua dan sangat berterima kasih karna sudah memfasilitasi kami untuk bergabung di kegiatan mereka. Pagi itu aku langsung ke barabai sekalian jalan-jalan lagi heheh... alhamdulillah yaa.. ternyata jalan-jalan membuat ku lupa akan revisi hihiiiii gapapa lahhh yang penting kan bahagia, jangan lupa bahagia sobatt.......



Jumat, 20 April 2018

Sebuah Pelajaran Kehidupan




Aku akui tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan kenangan dan pengalaman.
Tahun dimana puncaknya aku berorganisasi. Ya, aku yang dulunya tidak pernah mengenal dunia organisasi, pada tahun ini aku ditunjuk sebagai kepala departemen pengabdian masyarakat di sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial pendidikan yaitu UKM Fkip Mengajar di kampus ku yang tercinta, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Selama menjabat di organisasi ini, banyak sekali pelajaran hidup yang aku dapatkan, hasil dari melalang buana ke desa maupun tempat-tempat tertentu. Kali ini aku akan sharing tentang apa saja yang aku dapatkan selama mengabdi didesa. Mungkin untuk tulisan kali ini aku akan flashback tentang kegiatan pengabdian di desa loklahung dan perjalanan ke haratai 3 Hulu Sungai Selatan, karena jujur walaupun hanya 3 hari disana, banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang aku dapat dan membuat ku susah untuk move on dari kegiatan tersebut.
Pelajaran yang aku dapatkan diantaranya adalah :
1.      Memaknai hidup dari sisi yang berbeda
Awalnya aku hanya memikirkan diriku sendiri, aku hanya memikirkan bagaimana cepat lulus, cepat bekerja agar dapat uang dan menikmatinya sendiri. Aku hanya pergi kekampus, belajar, dan pulang. Setelah aku bergabung di organisasi aku mulai tersadar bahwa hidup itu bukan hanya sekedar akademik. Jadi mahasiswa itu tidak cukup hanya duduk dikelas. Ada yang lebih penting dari mata kuliah dikampus, yaitu sekolah kehidupan, dan pelajaran kehidupan ini salah satunya bisa didapatkan dengan bergabung di organisasi. Dari situ kita bisa terjun langsung merasakan apa yang orang sekitar rasakan, dan memang benar organisasi adalah wadah untuk diri kita berkembang. Ketika kita pergi ke suatu tempat, kita akan bertemu dengan orang baru ,melihat dan merasakan suasana daerah tersebut secara langsung dengan mata dan hati kita. Contohnya saja ketika pengabdian ke desa loklahung ini. Jujur walaupun sudah bertahun-tahun tinggal di Kalimantan Selatan,aku belum pernah mengunjungi daerah hulu sungai, selain tidak ada agenda, aku juga tidak memiliki teman maupun sanak saudara disana. ketika dikabarin ada kegiatan di desa hulu sungai, aku langsung excited ingin ikut dan  meluangkan waktu pada tanggal yang sudah ditetapkan. Aku bertemu dengan orang-orang yang berbeda denganku. Berbeda suku, berbeda budaya, bahkan berbeda agama. Selama ini banyak pandangan miring tentang suku disini sehingga banyak paradigma negatif yang aku terima sebelum berangkat ke desa ini. Ternyata aku sangat sangattttttttt terkejut, karena apa yang orang-orang katakan sangat berbanding terbalik dengan apa yang aku temukan disini. Inilah yang aku sebut dengan memaknai hidup dari sisi yang berbeda. Kita mungkin selalu menjudge suatu hal berdasarkan apa yang kita dengar saja bukan berdasarkan apa yang kita lihat langsung. Ketika datang aku disambut dengan anak-anak yang berwajah manis dan sangat ramah. Banyak babi yang berkeliaran disana namun tak menggangguku. Para masyarakat didesa menyambut kami dengan hangat dan ramah tamah.  Mereka sangat toleransi dengan perbedaan yang ada. Misalnya saja ketika ada acara makan bersama warga desa di haratai 3, mereka memasak dengan enak dan tidak menyajikan babi sebagai hidangan karena mereka tau sebagai muslim kami tidak boleh memakan daging babi. Ketika aku berada di haratai 3 pun aku melihat sebuah pemandangan indah dari rekatnya sebuah kekeluargaan antar rumah ke rumah. Mereka tidak memiliki televisi, sinyal pun tidak ada, Tapi rasa kekeluargaannya lebih tinggi daripada kita yang banyak sekali memiliki fasilitas yang berlimpah. Ternyata hidup tidak hanya soal materi, hidup tidak hanya soal fasilitas melulu, hidup tidak hanya komentar apa yang orang lain katakan, namun hidup adalah persoalan kenyamanan yang membuat kita bahagia, memaknai hidup adalah melihat dan merasakan secara langsung, bukan hanya menghiraukan perkataan orang lain.

2.      Belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang lain
Sejak SD aku memang senang berbicara, ya bisa dibilang sejak kecil aku sudah talkative. Ketika memasuki SMP aku menjadi ketua osis selama 2 periode. Padahal baru kelas 1 smp dan aku sama sekali buta tentang organisasi. Namun kefasihan ku dalam berbicara, berpidato dan meyakinkan orang lain membuat aku terpilih menjadi ketua osis. Nah ketika masuk SMA aku sama sekali tidak mengikuti osis karna kegiatannya terlalu sibuk. Aku hanya mengikuti ekskul teater, KSI dan komunitas pecinta lingkungan (greenschool community) saat berada di bangku SMA. Yaa bisa dibilang aku terlalu fokus ke dunia akademik saat SMA karna menurutku SMA adalah salah satu penentu masa depan karena perencanaan masa depan setelah lulus akan ditentukan di masa SMA. Terbukti beberapa kali aku selalu masuk 3 besar saat kelas 10. Saat kelas 11 aku juga pernah mendapatkan nilai semester tertinggi se jurusan IPS dan saat kelas 12 aku kembali mendapatkan nilai tertinggi UN se jurusan IPS di SMA ku. Ketika memasuki dunia perkuliahan, awalnya aku memang merasa sulit untuk mengadaptasi perubahan2 dari SMA ke bangku perkuliahan. 2 semester awal aku hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Setelah merasa tidak ada yang berarti dimasa kuliah, aku memutuskan untuk ikut program volunteering disalah satu program bem fkip dan kini menjadi UKM Fkip Mengajar. Semenjak ikut organisasi ini kemampuan berkomunikasi ku sangat terasah. Aku lebih sering berbicara didepan umum, mengemukakan pendapat, bersosialisasi dengan anak-anak, pendekatan masyarakat dan belajar meyakinkan orang lain dengan niat baik kita. Semua hal itu aku pelajari dan aku dapatkan saat bergabung di organisasi ini, dan sekarang alhamdulillah aku sudah terlatih untuk percaya diri berkomunikasi dengan orang lain. Ternyat bergabung di organisasi adalah salah satu jembatat kita untuk meningkatkan kualitas diri.

3.      Belajar bagaimana menikmati alam
Keindahan alam, suara jangkrik, hijaunya pohon, sejuknya embun membuatku jatuh cinta kepada alam. Bertafakkur dan tadabur alam membuat kita lebih bersyukur terhadap alam yang Allah ciptakan ini. Semenjak perjalanan pengabdianku adalah ke desa-desa pelosok yang masih asri, aku mulai belajar mencintai dan menikmati alam nan indah ini yang sangat jarang aku temukan di kota. Aku sangat jatuh cinta terhadap hutan,gunung dan segala alam yang berwarna hijau sejuk ini. Aku merasa tenang jika berada didaerah yang asri, sejuk, dan sangat indah ini. Akupun sekarang menyukai naik gunung hahaa.. entah kenapa aku merasa bahagia ditempat-tempat seperti ini. Mungkin berpuluh-puluh tahun aku hidup dikota yang sangat ramai dengan segala aktivitas yg padat membuat ku berada pada titik jenuh.

4.      Belajar bagaimana menghargai kenangan
Ini nih titik dimana paling menyedihkan dalam setiap agenda pengabdian. Kita hanya singgah dan menetap sementara. Kita kan bertemu lalu berpisah, kita akan bercanda ria lalu mengucapkan selamat tinggal. Lalu apa yang tersisa? Ya. Kenangan. Kenangan lah yang tersisa karena sejauh apapun kita melangkah tujuan akhir kita adalah kembali. Aku belajar bagaimana mengelola hati, menghargai kenangan, dan belajar untuk move on. Setiap moment berharga yang kita lalui akan menjadi kenangan dan kenangan lah yang harusnya membuat kita menjadi lebih baik dimasa mendatang. Ohh kenangann... terima kasih sudah mengukir kenangan bersamaku. Entah kenangan menyenangkan atau kenangan pahit selamanya akan ku kenang. Semoga suatu saat kita mengulang kenangan ini bersama diwaktu yang berbeda dan bersama membuat kenangan baru (eh kok baper) hahahah....


                                                                                                ZULFA APRIL 2018