efect bunga berjatuhan

Jumat, 20 April 2018

Sebuah Pelajaran Kehidupan




Aku akui tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan kenangan dan pengalaman.
Tahun dimana puncaknya aku berorganisasi. Ya, aku yang dulunya tidak pernah mengenal dunia organisasi, pada tahun ini aku ditunjuk sebagai kepala departemen pengabdian masyarakat di sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial pendidikan yaitu UKM Fkip Mengajar di kampus ku yang tercinta, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Selama menjabat di organisasi ini, banyak sekali pelajaran hidup yang aku dapatkan, hasil dari melalang buana ke desa maupun tempat-tempat tertentu. Kali ini aku akan sharing tentang apa saja yang aku dapatkan selama mengabdi didesa. Mungkin untuk tulisan kali ini aku akan flashback tentang kegiatan pengabdian di desa loklahung dan perjalanan ke haratai 3 Hulu Sungai Selatan, karena jujur walaupun hanya 3 hari disana, banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang aku dapat dan membuat ku susah untuk move on dari kegiatan tersebut.
Pelajaran yang aku dapatkan diantaranya adalah :
1.      Memaknai hidup dari sisi yang berbeda
Awalnya aku hanya memikirkan diriku sendiri, aku hanya memikirkan bagaimana cepat lulus, cepat bekerja agar dapat uang dan menikmatinya sendiri. Aku hanya pergi kekampus, belajar, dan pulang. Setelah aku bergabung di organisasi aku mulai tersadar bahwa hidup itu bukan hanya sekedar akademik. Jadi mahasiswa itu tidak cukup hanya duduk dikelas. Ada yang lebih penting dari mata kuliah dikampus, yaitu sekolah kehidupan, dan pelajaran kehidupan ini salah satunya bisa didapatkan dengan bergabung di organisasi. Dari situ kita bisa terjun langsung merasakan apa yang orang sekitar rasakan, dan memang benar organisasi adalah wadah untuk diri kita berkembang. Ketika kita pergi ke suatu tempat, kita akan bertemu dengan orang baru ,melihat dan merasakan suasana daerah tersebut secara langsung dengan mata dan hati kita. Contohnya saja ketika pengabdian ke desa loklahung ini. Jujur walaupun sudah bertahun-tahun tinggal di Kalimantan Selatan,aku belum pernah mengunjungi daerah hulu sungai, selain tidak ada agenda, aku juga tidak memiliki teman maupun sanak saudara disana. ketika dikabarin ada kegiatan di desa hulu sungai, aku langsung excited ingin ikut dan  meluangkan waktu pada tanggal yang sudah ditetapkan. Aku bertemu dengan orang-orang yang berbeda denganku. Berbeda suku, berbeda budaya, bahkan berbeda agama. Selama ini banyak pandangan miring tentang suku disini sehingga banyak paradigma negatif yang aku terima sebelum berangkat ke desa ini. Ternyata aku sangat sangattttttttt terkejut, karena apa yang orang-orang katakan sangat berbanding terbalik dengan apa yang aku temukan disini. Inilah yang aku sebut dengan memaknai hidup dari sisi yang berbeda. Kita mungkin selalu menjudge suatu hal berdasarkan apa yang kita dengar saja bukan berdasarkan apa yang kita lihat langsung. Ketika datang aku disambut dengan anak-anak yang berwajah manis dan sangat ramah. Banyak babi yang berkeliaran disana namun tak menggangguku. Para masyarakat didesa menyambut kami dengan hangat dan ramah tamah.  Mereka sangat toleransi dengan perbedaan yang ada. Misalnya saja ketika ada acara makan bersama warga desa di haratai 3, mereka memasak dengan enak dan tidak menyajikan babi sebagai hidangan karena mereka tau sebagai muslim kami tidak boleh memakan daging babi. Ketika aku berada di haratai 3 pun aku melihat sebuah pemandangan indah dari rekatnya sebuah kekeluargaan antar rumah ke rumah. Mereka tidak memiliki televisi, sinyal pun tidak ada, Tapi rasa kekeluargaannya lebih tinggi daripada kita yang banyak sekali memiliki fasilitas yang berlimpah. Ternyata hidup tidak hanya soal materi, hidup tidak hanya soal fasilitas melulu, hidup tidak hanya komentar apa yang orang lain katakan, namun hidup adalah persoalan kenyamanan yang membuat kita bahagia, memaknai hidup adalah melihat dan merasakan secara langsung, bukan hanya menghiraukan perkataan orang lain.

2.      Belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang lain
Sejak SD aku memang senang berbicara, ya bisa dibilang sejak kecil aku sudah talkative. Ketika memasuki SMP aku menjadi ketua osis selama 2 periode. Padahal baru kelas 1 smp dan aku sama sekali buta tentang organisasi. Namun kefasihan ku dalam berbicara, berpidato dan meyakinkan orang lain membuat aku terpilih menjadi ketua osis. Nah ketika masuk SMA aku sama sekali tidak mengikuti osis karna kegiatannya terlalu sibuk. Aku hanya mengikuti ekskul teater, KSI dan komunitas pecinta lingkungan (greenschool community) saat berada di bangku SMA. Yaa bisa dibilang aku terlalu fokus ke dunia akademik saat SMA karna menurutku SMA adalah salah satu penentu masa depan karena perencanaan masa depan setelah lulus akan ditentukan di masa SMA. Terbukti beberapa kali aku selalu masuk 3 besar saat kelas 10. Saat kelas 11 aku juga pernah mendapatkan nilai semester tertinggi se jurusan IPS dan saat kelas 12 aku kembali mendapatkan nilai tertinggi UN se jurusan IPS di SMA ku. Ketika memasuki dunia perkuliahan, awalnya aku memang merasa sulit untuk mengadaptasi perubahan2 dari SMA ke bangku perkuliahan. 2 semester awal aku hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Setelah merasa tidak ada yang berarti dimasa kuliah, aku memutuskan untuk ikut program volunteering disalah satu program bem fkip dan kini menjadi UKM Fkip Mengajar. Semenjak ikut organisasi ini kemampuan berkomunikasi ku sangat terasah. Aku lebih sering berbicara didepan umum, mengemukakan pendapat, bersosialisasi dengan anak-anak, pendekatan masyarakat dan belajar meyakinkan orang lain dengan niat baik kita. Semua hal itu aku pelajari dan aku dapatkan saat bergabung di organisasi ini, dan sekarang alhamdulillah aku sudah terlatih untuk percaya diri berkomunikasi dengan orang lain. Ternyat bergabung di organisasi adalah salah satu jembatat kita untuk meningkatkan kualitas diri.

3.      Belajar bagaimana menikmati alam
Keindahan alam, suara jangkrik, hijaunya pohon, sejuknya embun membuatku jatuh cinta kepada alam. Bertafakkur dan tadabur alam membuat kita lebih bersyukur terhadap alam yang Allah ciptakan ini. Semenjak perjalanan pengabdianku adalah ke desa-desa pelosok yang masih asri, aku mulai belajar mencintai dan menikmati alam nan indah ini yang sangat jarang aku temukan di kota. Aku sangat jatuh cinta terhadap hutan,gunung dan segala alam yang berwarna hijau sejuk ini. Aku merasa tenang jika berada didaerah yang asri, sejuk, dan sangat indah ini. Akupun sekarang menyukai naik gunung hahaa.. entah kenapa aku merasa bahagia ditempat-tempat seperti ini. Mungkin berpuluh-puluh tahun aku hidup dikota yang sangat ramai dengan segala aktivitas yg padat membuat ku berada pada titik jenuh.

4.      Belajar bagaimana menghargai kenangan
Ini nih titik dimana paling menyedihkan dalam setiap agenda pengabdian. Kita hanya singgah dan menetap sementara. Kita kan bertemu lalu berpisah, kita akan bercanda ria lalu mengucapkan selamat tinggal. Lalu apa yang tersisa? Ya. Kenangan. Kenangan lah yang tersisa karena sejauh apapun kita melangkah tujuan akhir kita adalah kembali. Aku belajar bagaimana mengelola hati, menghargai kenangan, dan belajar untuk move on. Setiap moment berharga yang kita lalui akan menjadi kenangan dan kenangan lah yang harusnya membuat kita menjadi lebih baik dimasa mendatang. Ohh kenangann... terima kasih sudah mengukir kenangan bersamaku. Entah kenangan menyenangkan atau kenangan pahit selamanya akan ku kenang. Semoga suatu saat kita mengulang kenangan ini bersama diwaktu yang berbeda dan bersama membuat kenangan baru (eh kok baper) hahahah....


                                                                                                ZULFA APRIL 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar