efect bunga berjatuhan

Rabu, 15 Maret 2017

Perjalanan ke Desa Gudang Hirang



Minggu, 12 Maret 2017
Pagi yang gelap di iringi dengan sejuknya mentari pagi, kami (anggota fkip mengajar) bergegas untuk berangkat ke suatu desa bersama-sama. 5 perempuan dan 2 laki-laki menggunakan motor pribadi. Tujuan awal berangkat pagi adalah ke tempat wisata pasar terapung Lok Baintan sekaligus survei ke salah satu desa untuk program kerja Fkip Mengabdi.
Perjalanan yang cukup jauh sekitar 1 jam dari Banjarmasin. setengah perjalanan, akses jalan menuju Lok Baintan cukup baik, namun setelah melewati simpang 4 sungai tabuk akses jalan mulai sedikit bergelombang dan licin walau tidak terlalu parah.  Sampai lah kami disebuah dermaga kecil di desa lok baintan. Di dermaga kecil tersebut hanya ada 1 buah kelotok (perahu kecil khas Kalimantan Selatan) yang tersisa. Kami datang agak kesiaangan sekitar jam 7 pagi. Pasar terapung lok baintan mulai ada setelah sholat shubuh. Akhirnya kami pun menyewa kelotok tersebut dengan biaya 100 ribu sepuasnya. Karena ada 7 orang kami pun patungan sebesar 15ribu perorang. Berangkatlah ke pasar terapung lok baintan. Perjalanan dari dermaga ke lokasi pasar ditempuh sekitar 15 menit. Oh iya biaya ini cukup murah dibandingkan berangkat langsung dari kota Banjarmasin yang jarak tempuhnya sekitar 1 jam setengah dengan biaya sewa kelotok paling murah 450 ribu.
Sesampainya di Lok Baintan saya cukup kagum karena pasar ini lebih bagus dari yang satunya hehe. Pedagangnya cukup banyak, sungainya cukup bersih dan pedagangnya ramah-ramah. Gelombang arusnya cukup besar sehingga membuat saya berteriak lebay hahaaa maklum tidak bisa berenang J dan salah satu hal yang membedakan pasar lok baintan dengan pasar terapung lainnya adalah disini disediakan ojek jukung. Jadi pengunjung yang mau ikut berjualan bisa naik ke jukung pedagang sambil mengayuh jukung dan berjualan di sungai. Tidak ada tarif pasti, kalian bisa kasih seikhlasnya atau hanya dengan membeli dagangan mereka.
Setelah berwisata ria di pasar terapung Lok Baintan, kami kembali ke dermaga dan melanjutkan perjalanan ke Desa Gudang Hirang yang tidak jauh dari Desa Lok Baintan. Akses jalan kesana mulai sedikit tidak mulus, banyak bebatuan dan jalanan yang becek. Sampai lah kami di daerah Sungai Madang. Sebuah desa yang berada didalam desa. Desa sungai madang ada didalam wilayah desa gudang hirang kecamatan sungai tabuk, makanya saya sebut ada desa didalam desa. Sebuah desa yang terkenal penghasil jeruk madang yang manis dan besar. Sesampainya kami di desa, kami langsung berkunjung ke rumah seorang kepala sekolah yang sudah menjadi kepala sekolah selama puluhan tahun di MI Raudhatul Jannah. Sebuah sekolah agama yang terletak bersebelahan rumah kepala sekolahnya, Bapak Husni.
Disana kami berkunjung kerumah beliau sekaligus memberitahukan maksud kedatangan kami disana untuk mengabdi di desa sungai madang ini selama seminggu pada bulan Juli nanti. Awalnya kami takut jika ada sebuah penolakan, karena sekolah tersebut hanya mengajarkan pelajaran agama sedangkan kami nanti akan mengajarkan materi umum. Setelah kami jelaskan kegiatan kami nanti bahwa kami akan mengajar mata pelajaran umum dan pelajaran keterampilan, bapak kepala sekolah tersebut dengan lapang dada mengizinkan kami untuk menetap disana selama seminggu. Kebetulan di kampung tersebut ada sebuah rumah kosong, jadi kemungkinan besar kami akan tinggal disana dan laki-lakinya akan tinggal dimesjid. Salah satu yang khas dari desa ini adalah dimana toiletnya berada di atas sungai dan didesa ini tidak memiliki fasiltas air bersih. Semua aktivitas sehari-hari hanya menggunakan air sungai. Untungnya ada wc mesjid yang lumayan tertutup, sehingga nanti memudahkan kami terutama bagi yang perempuan.
Bapak Husni menyatakan bahwa mayoritas penduduk disana adalah behuma atau bertani. Mereka mengandalkan sawah dan kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fasilitas pendidikan disana pun masih sangat memprihatinkan. Tidak ada toilet, tidak memiliki lapangan, bangunan masih banyak yang rusak, dan kursi meja yang seadanya. Insyaallah semoga kedatangan FKIP Mengajar nanti bisa sedikit memperbaiki keadaan sekolah dan memberikan motivasi bagi anak-anak sungai madang untuk menempuh pendidikan yang tinggi. Kegiatan pengabdian ini InsyaAllah akan dilaksanakan pada bulan Juli saat liburan semester nanti.
Setelah mendapatkan izin dari kepala sekolah, kami menanyakan rumah pembakal/kepala desa untuk meminta izin melakukan kegiatan di Desa Gudang Hirang. Beliau memberikan petunjuk bahwa jika ingin ke rumah pembakal maka kami akan melalui alses jalan yang sangat parah dan cukup membahayakan.
Karena kami tidak ingin bolak balik alias sekaligus saja kunjungan pada hari itu, maka kami pun nekat untuk berpamitan kepada bapak Husni dan melanjutkan perjalanan kami ke rumah pembakal.
Awal perjalanan masih biasa-biasa saja. Jalanan mulus, sejuk dan kanan kiri terlihat pemandangan sawah yang sangat indah, namun ketika perjalanan mulai menjauh kami terkejut ketika melihat jalan yang bergelombang, becek, licin dan bercampur lumpur. Awalnya saya cukup khawatir untuk melalui jalan tersebut karna jalanan yang tidak mulus, banyak lubang jalan yang tak terduga serta jalanan yang digenangi air dan lumpur membuat hati saya takut dan gemetaran. Hanya ada 2 pilihan, melewati jalan yang berlumpur becek atau melewati jalan yang tergenang air. Bagaikan nuah simalakama hahaa akhirnya motor didepan saya memilih untuk melewati jalan yang berlumpur dan licin. Ternyata ban motor teman saya sulit untuk berputar di area lumpur alhasil cipratan lumpur diban motor berhambur ke belakang sehingga menodai pakaian,kerudung, hingga terkena di wajah saya. Aaaaaaa pada saat itu saya tidak karuan rasa lagi, wajah penuh cipratan lumpur, baju becek, sepatu basah dll. Dengan segala usaha yang keras akhirnya kami semua bisa melalui jalan yang rusak tersebut sepanjang kira-kira 800m. Setelah keluar dari desa kami berkunjung kerumah pembakal desa gudang hirang. Karena badan saya yang sangat kotor dan satu-satunya yang terkena lumpur , akhirnya saya memutuskan untuk tidak masuk kedalam hanya menunggu diluar.
Setelah berkunjung kerumah pembakal untuk minta izin, akhirnya kami kembali ke Banjarmasin. Berangkat jam 6 pagi dan balik sekitar jam 12 siang. Setelah sampai dirumah saya langsung mandi dan tidur hahahaaa.... 









It was a good challenge, it was an unforgettable experience. Desa gudang hirang taught me how to be strong and how to survive in every condition.
-Zulfa-





2 komentar: