Minggu, 12 Maret 2017
Pagi yang gelap di iringi dengan sejuknya mentari pagi,
kami (anggota fkip mengajar) bergegas untuk berangkat ke suatu desa
bersama-sama. 5 perempuan dan 2 laki-laki menggunakan motor pribadi. Tujuan
awal berangkat pagi adalah ke tempat wisata pasar terapung Lok Baintan
sekaligus survei ke salah satu desa untuk program kerja Fkip Mengabdi.
Perjalanan yang cukup jauh sekitar 1 jam dari
Banjarmasin. setengah perjalanan, akses jalan menuju Lok Baintan cukup baik,
namun setelah melewati simpang 4 sungai tabuk akses jalan mulai sedikit
bergelombang dan licin walau tidak terlalu parah. Sampai lah kami disebuah dermaga kecil di
desa lok baintan. Di dermaga kecil tersebut hanya ada 1 buah kelotok (perahu
kecil khas Kalimantan Selatan) yang tersisa. Kami datang agak kesiaangan
sekitar jam 7 pagi. Pasar terapung lok baintan mulai ada setelah sholat shubuh.
Akhirnya kami pun menyewa kelotok tersebut dengan biaya 100 ribu sepuasnya.
Karena ada 7 orang kami pun patungan sebesar 15ribu perorang. Berangkatlah ke
pasar terapung lok baintan. Perjalanan dari dermaga ke lokasi pasar ditempuh
sekitar 15 menit. Oh iya biaya ini cukup murah dibandingkan berangkat langsung
dari kota Banjarmasin yang jarak tempuhnya sekitar 1 jam setengah dengan biaya
sewa kelotok paling murah 450 ribu.
Sesampainya di Lok Baintan saya cukup kagum karena pasar
ini lebih bagus dari yang satunya hehe. Pedagangnya cukup banyak, sungainya
cukup bersih dan pedagangnya ramah-ramah. Gelombang arusnya cukup besar
sehingga membuat saya berteriak lebay hahaaa maklum tidak bisa berenang J dan salah satu hal yang membedakan pasar lok baintan
dengan pasar terapung lainnya adalah disini disediakan ojek jukung. Jadi
pengunjung yang mau ikut berjualan bisa naik ke jukung pedagang sambil mengayuh
jukung dan berjualan di sungai. Tidak ada tarif pasti, kalian bisa kasih
seikhlasnya atau hanya dengan membeli dagangan mereka.
Setelah berwisata ria di pasar terapung Lok Baintan, kami
kembali ke dermaga dan melanjutkan perjalanan ke Desa Gudang Hirang yang tidak
jauh dari Desa Lok Baintan. Akses jalan kesana mulai sedikit tidak mulus,
banyak bebatuan dan jalanan yang becek. Sampai lah kami di daerah Sungai
Madang. Sebuah desa yang berada didalam desa. Desa sungai madang ada didalam
wilayah desa gudang hirang kecamatan sungai tabuk, makanya saya sebut ada desa
didalam desa. Sebuah desa yang terkenal penghasil jeruk madang yang manis dan
besar. Sesampainya kami di desa, kami langsung berkunjung ke rumah seorang
kepala sekolah yang sudah menjadi kepala sekolah selama puluhan tahun di MI
Raudhatul Jannah. Sebuah sekolah agama yang terletak bersebelahan rumah kepala
sekolahnya, Bapak Husni.
Disana kami berkunjung kerumah beliau sekaligus
memberitahukan maksud kedatangan kami disana untuk mengabdi di desa sungai madang
ini selama seminggu pada bulan Juli nanti. Awalnya kami takut jika ada sebuah
penolakan, karena sekolah tersebut hanya mengajarkan pelajaran agama sedangkan
kami nanti akan mengajarkan materi umum. Setelah kami jelaskan kegiatan kami
nanti bahwa kami akan mengajar mata pelajaran umum dan pelajaran keterampilan,
bapak kepala sekolah tersebut dengan lapang dada mengizinkan kami untuk menetap
disana selama seminggu. Kebetulan di kampung tersebut ada sebuah rumah kosong,
jadi kemungkinan besar kami akan tinggal disana dan laki-lakinya akan tinggal
dimesjid. Salah satu yang khas dari desa ini adalah dimana toiletnya berada di
atas sungai dan didesa ini tidak memiliki fasiltas air bersih. Semua aktivitas
sehari-hari hanya menggunakan air sungai. Untungnya ada wc mesjid yang lumayan
tertutup, sehingga nanti memudahkan kami terutama bagi yang perempuan.
Bapak Husni menyatakan bahwa mayoritas penduduk disana
adalah behuma atau bertani. Mereka
mengandalkan sawah dan kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fasilitas
pendidikan disana pun masih sangat memprihatinkan. Tidak ada toilet, tidak
memiliki lapangan, bangunan masih banyak yang rusak, dan kursi meja yang
seadanya. Insyaallah semoga kedatangan FKIP Mengajar nanti bisa sedikit
memperbaiki keadaan sekolah dan memberikan motivasi bagi anak-anak sungai
madang untuk menempuh pendidikan yang tinggi. Kegiatan pengabdian ini
InsyaAllah akan dilaksanakan pada bulan Juli saat liburan semester nanti.
Setelah mendapatkan izin dari kepala sekolah, kami
menanyakan rumah pembakal/kepala desa untuk meminta izin melakukan kegiatan di
Desa Gudang Hirang. Beliau memberikan petunjuk bahwa jika ingin ke rumah
pembakal maka kami akan melalui alses jalan yang sangat parah dan cukup
membahayakan.
Karena kami tidak ingin bolak balik alias sekaligus saja
kunjungan pada hari itu, maka kami pun nekat untuk berpamitan kepada bapak
Husni dan melanjutkan perjalanan kami ke rumah pembakal.
Awal perjalanan masih biasa-biasa saja. Jalanan mulus,
sejuk dan kanan kiri terlihat pemandangan sawah yang sangat indah, namun ketika
perjalanan mulai menjauh kami terkejut ketika melihat jalan yang bergelombang,
becek, licin dan bercampur lumpur. Awalnya saya cukup khawatir untuk melalui
jalan tersebut karna jalanan yang tidak mulus, banyak lubang jalan yang tak
terduga serta jalanan yang digenangi air dan lumpur membuat hati saya takut dan
gemetaran. Hanya ada 2 pilihan, melewati jalan yang berlumpur becek atau
melewati jalan yang tergenang air. Bagaikan nuah simalakama hahaa akhirnya
motor didepan saya memilih untuk melewati jalan yang berlumpur dan licin.
Ternyata ban motor teman saya sulit untuk berputar di area lumpur alhasil
cipratan lumpur diban motor berhambur ke belakang sehingga menodai
pakaian,kerudung, hingga terkena di wajah saya. Aaaaaaa pada saat itu saya
tidak karuan rasa lagi, wajah penuh cipratan lumpur, baju becek, sepatu basah
dll. Dengan segala usaha yang keras akhirnya kami semua bisa melalui jalan yang
rusak tersebut sepanjang kira-kira 800m. Setelah keluar dari desa kami berkunjung
kerumah pembakal desa gudang hirang. Karena badan saya yang sangat kotor dan
satu-satunya yang terkena lumpur , akhirnya saya memutuskan untuk tidak masuk
kedalam hanya menunggu diluar.
Setelah berkunjung kerumah pembakal untuk minta izin,
akhirnya kami kembali ke Banjarmasin. Berangkat jam 6 pagi dan balik sekitar
jam 12 siang. Setelah sampai dirumah saya langsung mandi dan tidur hahahaaa....
It was a good challenge, it was an unforgettable
experience. Desa gudang hirang taught me how to be strong and how to survive in
every condition.
-Zulfa-







Powefull.. :)
BalasHapusMeaningfull... :)
Of course hehee
BalasHapus